









| Written by Rudy Suwardi | ||||||||||
| Wednesday, 20 July 2011 13:33 | ||||||||||
|
KETIKA HIDUP TAMPAK TIDAK ADIL
Mazmur 73:1-28 Kotbah pagi ini akan saya awali dengan pembahasan mengenai persepsi. Apa itu persepsi? Persepsi didefinisikan sebagai proses penilaian oleh seseorang terhadap suatu obyek tertentu, dapat bersifat positif atau negatif, senang atau tidak senang. Bagaimana kita memandang sesuatu, maka hal itu menjadi kenyataan bagi kita.Melalui persepsi, manusia memandang dunia, apakah terlihat berwarna cerah, pucat atau hitam.Semuanya adalah persepsi. Marilah kita lihat gambar berikut ini. Apa persepsi Sdr mengenai gambar ini? Seorang gadis atau seorang nenek? Gambar ini memperlihatkan bahwa orang bisa mempunyai persepsi yang berlainan terhadap suatu obyek yang sama.
Persepsi kita mengenai realitas akan mempengaruhi kita dalam menanggapi realitas. Dalam bidang rohani, salah persepsi dapat mengakibatkan kita kehilangan keseimbangan. Hidup ini tampaknya tidak adil. Orang fasik (orang yang belum percaya) kelihatannya mendapat berkat yang lebih banyak daripada berkat yang kita terima. Untuk menemukan stabilitas atau keseimbangan rohani kita perlu melakukan suatu pengujian terhadap realitas. Tempat yang terbaik untuk meluruskan pandangan kita adalah Alkitab. Pagi ini ini kita akan melihat bagaimana Mazmur 73 memperlihatkan rencana Tuhan mengenai apa yang harus kita lakukan jika persepsi kita kacau. Mazmur ini ditulis oleh seseorang yang bernama Asaf. Ia adalah seseorang yang matang dan saleh, yang melayani sebagai pemimpin pujian di Bait Suci. Asaf membuat 12 buah Mazmur yang berbeda-beda. Meskipun demikian iasekarang tampaknya sedang bersiap untuk mengundurkan diri dari pelayanannya. Ia akan meninggalkan Tuhan karena persepsinya mengenai realitas kacau. Mazmur ini sangat pribadi sifatnya, dan isinya adalah suatu kejujuran yang memilukan. Asaf mengajukan pertanyaan yang mungkin juga pernah ditanyakan oleh banyak orang pada suatu waktu di dalam hidup mereka: Jika Tuhan memang memberkati orang-orang beriman, mengapakah kita tetap bergumul dengan masalah kesehatan, masalah keuangan, dan masalah-masalah lainnya, sedangkan orang fasik di sekeliling kita tampaknya menikmati kemakmuran? Atau, kita dapat menanyakannya dengan cara lain, “Mengapa orang yang jahat mendapat kesuksesan sedangkan orang benar menderita?” Asaf mengawali Mazmur ini dengan suatu pendahuluan yang merupakan suatu pernyataan rangkuman, atau suatu kesimpulan theology, semuanya dikemas dalam ayat 1: “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.” Asaf sedang menyatakan prinsip dasar yang universal bagi orang beriman, bahwa “Tuhan adalah baik.” Kata “Sesungguhnya” dalam ayat 1 secara harafiah berarti “tetapi” dan juga mengandung gagasan eksklusivitas: “Tidak peduli apapun yang terjadi, Tuhan dan hanyaTuhan sendiri adalah baik.” Kebenaran tersebut adalah inti dari persoalan ini dan kita dapat bergantung pada kepastian ini. Mzm 84:12b menegaskan dilema ini: “Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.” Jika Tuhan adalah baik, bukankah seharusnya kita menerima lebih banyak lagi hal-hal yang “baik” dalam hidup kita? Bukankah paling tidak kita menerima berkat yang lebih besar daripada mereka yang bahkan tidak peduli kepada Tuhan? Perspektif Manusia Setelah menyatakan, bahwa apa yang diketahuinya itu benar, Asaf memandang ke sekelilingnya dan dengan perspektif manusia ia heran dengan apa yang terjadi pada paruh pertama dari Mazmur ini. Ia bingung dengan apa yang diajarkan oleh Alkitab karena apa yang dialaminya dalam hidupnya sangatlah berbeda. Pada ayat 2, Asaf mengakui bahwa ia hampir “tergelincir”. Ayat 2 tersebut sangat berlawanan dengan kepastian dari ayat 1. Ayat 2: “Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.”Asaf sedang mengatakan: “Tuhan, Engkau mungkin baik, tetapi aku hampir meninggalkan Engkau.” Asaf merasa seperti sedang mencoba berjalan di atas sebuah batu karang yang dipenuhi lumut di danau. Asaf hampir saja kehilangan keyakinan percayanya pada kebaikan Tuhan karena adanya empat realita yang ia lihat di sekelilingnya.
1. Kemujuran Orang Fasik Ayat 3 memberikan informasi kepada kita mengapa Asaf mangkir secara rohani: “Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.” Pembual adalah orang congkak yang ibaratnya meniup terompetnya dengan keras. Ia berbicara dengan lantang seperti keledai meringkik. Perhatikan, Asaf tidak terkejut dengan kecongkakan orang fasik, tetapi Asaf cemburu (iri) kepada mereka. Ia ingin memiliki apa yang dipunyai oleh orang fasik. Asaf tidak mengerti. Mengapa orang fasik memperoleh segala sesuatu yang hanya dijanjikan oleh Tuhan bagi umat-Nya? Kelihatannya tidak adil. Asaf mengajukan protes yang juga mungkin dilakukan oleh banyak orang. Ia membuat kesimpulan hanya berdasarkan apa yang ia lihat. Asaf mempunyai perspektif terhadap saat sekarang ini dan ia lupa mengenai masa yang akan datang. 2. Damai Sejahtera Orang Fasik Pada ayat 4-5 Asaf bertanya-tanya mengapa kehidupan tampak begitu baik bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan:“(4) Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; (5) mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.” Mereka hidup di jalur cepat, tetapi tidak kelihatan mengalami tabrakan atau kecelakaan. Hidup mereka tampaknya mudah dan tidak menyakitkan. Charles Spurgeon pernah berkata, “Those who deserve the hottest hell often have the warmest nest.” (Mereka yang layak masuk ke dalam neraka yang paling panas, seringkali malah mendapat rumah yang paling hangat). 3. Kecongkakan Orang Fasik Ketika Asaf memperhatikan lebih dekat, ia melihat orang-orang yang tidak beriman tidak memerlukan Tuhan (ayat 6-12). Orang-orang yang paling makmur dan hidup paling tenteram adalah mereka yang paling congkak. Mereka tidak memerlukan perhiasan karena kesombongan mereka berkilau-kilau seperti sebuah kalung yang mahal. Mereka meninggikan diri mereka dan merendahkan orang lain. Ayat 7: “Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan.” Ayat 7 tersebut mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai batas. Mereka selamanya mempunyai uang dan kekuasaan untuk melakukan apa saja yang mereka mau. Ayat 8-9: “(8) Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati.” Orang-orang congkak tersebut mengolok-olok orang percaya. Bahkan dalam ayat 9 dan 11 mereka melawan Tuhan: “(9) Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi.(11) Dan mereka berkata: "Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?" Kecongkakan telah membuat mereka sangat tinggi hati sehingga mereka memandang rendah pada Tuhan beserta umat-Nya. Ayat 10 bahkan memberikan indikasi bahwa bualan dan cemoohan mereka memberi dampak yang besar bagi orang-orang yang sedang berusaha mengikut Tuhan. Ayat 12 memberikan rangkuman tentang keadaan orang fasik itu: “Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya!” Marilah kita membuat suatu pengakuan pagi hari ini. Banyak diantara kita dengan diam-diam mengamati orang-orang yang terkenal dan kaya. Itulah sebabnya setiap stasiun TV menyiarkan acara berita mengenai celebrity. Kita cemburu/iri kepada mereka yang tampaknya hidup tanpa batas, atau cemburu kepada mereka yang dapat melakukan apa saja yang mereka mau. Barangkali ada di antara kaum muda di ruangan ini yang saat ini bertanya-tanya apakah ia sudah membuat pilihan yang benar untuk mengikut Kristus. Mengapa aku harus hidup bagi Yesus sedangkan teman-teman-ku kelihatannya baik-baik saja tanpa Yesus? Mungkin Sdr sedang berada di ambang keruntuhan rohani, bukannya berdiri tegak bagi Yesus. Mana yang lebih penting bagi Sdr, menjadi terkenal atau memiliki hati yang murni? 4. Kesedihan Orang Benar Pada ayat 13, Asaf sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada gunanya hidup kudus. Iamengatakan “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.” Dari perspektif manusia, kelihatannya hanya ada sedikit upah untuk hidup benar. The Living Bible menuliskan ayat 13 tersebut sebagai berikut: “Tidakkah aku menyia-nyiakan waktuku? Mengapa bersusah payah menjaga kekudusan?” Maleakhi 3:14-15 menggemakan keluhan tersebut: “(14) Kamu berkata; “Adalah sia-sia beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadap-Nya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan Tuhan semesta alam?”(15). Oleh sebab itu kita ini menyebut berbahagia orang-orang yang gegabah: bukan saja mujur orang-orang yang berbuat fasik itu, tetapi dengan mencobai Allahpun mereka luput juga.” Pada ayat 14, Asaf bertanya-tanya mengapa ia kalah sementara orang-orang yang congkak mendapat kemujuran. Asaf mengasihani dirinya sendiri dan menjelaskan emosi yang sedang dirasakannya: “Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.” Kesusahannya berlangsung sepanjang hari dan ketika ia bangun keesokan paginya, ada segudang masalah baru yang menanti untuknya. Pada akhir ayat 14, Asaf dipenuhi dengan kebimbangan, kebingungan dan kemurungan. Dimulai dengan cemburu pada ayat 2 dan 3 akhirnya ia mengalami kebimbangan. Proses resolusi dan pemulihannya dimulai ketika Asaf menghadapi pergumulan dalam ayat 15-16. Hal pertama yang dilakukan Asaf adalah mengingat bahwa ia adalah bagian dari komunitas iman dan ia harus berhati-hati dengan apa yang ia katakan: (15) Seandainya aku berkata: "Aku mau berkata-kata seperti itu," maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu.” Ia tidak dapat berbicara kepada orang lain mengenai keraguannya karena akan membawa akibat yang buruk. Asafmemberi perhatian kepada bayi-bayi rohani. Ia tidak mau melakukan apapun yang dapat membuat mereka tersesat. Karena itu ia memilih untuk diam. Jika ia sudah berbicara secara terbuka mengenai keraguannya maka ia sudah mengkhianati orang-orang beriman yang masih muda dengan jalan memperkenalkan gagasan yang tidak benar. Saudara, jika Sdr curiga bahwa Sdr salah, lebih baik tutup mulut. Amsal 17:28: “Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.” Tindakan Asaf patut dipuji, tetapi hal ini belum menyelesaikan dilemma. Pendekatan Asaf yang kedua juga sia-sia. Ayat 16 mengatakan, “Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku.” Memendam masalah di dalam hatinya membuat ia seperti akan meledak. Ia merasa sedih karena ia tidak dapat berbicara kepada orang lain dan ia merasa tenggelam karena tidak dapat memahami masalahnya seorang diri. Perspektif Surgawi Ketika kita sampai pada ayat 17, kita melihat perubahan yang jelas dalam paradigma Asaf pada saat ia melakukan pengujian terhadap realitas. Pada paruh pertama Mazmur ini, ia memandang kehidupan dengan persepsi manusia. Pada paruh kedua, ia membingkai kembali pemahamannya mengenai realitas dengan menggunakan pandangan surgawi. Bagian pertama menjelaskan mengenai “pencobaan iman” dan bagian akhir Mazmur ini menjelaskan “kemenangan iman”. Kita dapat melukiskan perbedaannya dengan cara berikut.
Apa yang merubah segala sesuatunya untuk Asaf? Hal itu juga yang akan mengubah perspektif kita semua yaitu: penyembahan. Ayat 17 adalah titik perubahan dari Mazmur ini: “Sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.” Apabila diterjemahkan secara bebas ayat ini mengatakan: “Sekarang aku mengerti gambaran utuhnya.” Jika kita hanya melihat mereka di sekeliling kita, dan jika kita menilai Tuhan berdasarkan pengalaman kita, kita tidak akan pernah memperoleh gambaran keseluruhannya. Segala sesuatu akan diletakkan pada perspektif yang benar jika kita datang di hadirat Allah. Kemujuran orang fasik sudah memenuhi penglihatan Asaf, tetapi sejak sekarang sampai pada akhir Mazmur ini, Tuhan sendiri, Tuhan di tempat kudus-Nya,menjadi titik pusatnya. Di dalam perjanjian Lama, ruang kudus adalah suatu tempat yang dikhususkan dengan peraturan-peraturan tertentu, untuk bertemu dengan Tuhan. Menurut Perjanjian Baru, Tuhan sudah mengambil tempat kediaman di dalam hati orang percaya. 1 Kor 6:19-20: “(19) Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? (20) Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Kita tidak perlu pergi berziarah ke tempat tertentu untuk memasuki tempat kudustetapi sangatlah penting untuk Sdr memiliki tempat khusus untuk bertemu dengan Tuhan dan mendapatkan perspektif-Nya lagi. Jika kita tidak menatap pada Tuhan, kita akan jatuh ke dalam perspektif manusia dan berakhir dengan kecemburuan dan kepahitan.
Sudut pandang Tuhan akan bisa dimengerti apabila kita berjumpa dengan Dia. Ketika kita diingatkan mengenai sifat-sfat-Nya, karakter-Nya, dan kekuasaan-Nya, kita melihat penghakiman Tuhan atas dosa sekaligus juga solusi yang ditawarkan-nya kepada orang berdosa. Hanya di tempat kudus Tuhan sajalah Asaf dapat mengerti betapa bahayanya posisi orang fasik dan betapa manisnya kasih karunia dan belas kasihan Tuhan di dalam hidupnya sendiri. Misteri kehidupan hanya masuk akal di hadapan yang Maha Kuasa. Salah satu hasil dari penyembahan kepada Tuhan adalah perubahan. Kita tidak lagi berfokus pada masa kini, tetapi kita dipindahkan ke alam kekekalan. Pada saat itulah kita akan mengerti sepenuhnya betapa beratnya akhir dari nasib mereka yang terpisah dari Tuhan.
Ketika kita melihat kehidupan melalui pandangan kekekalan, kita akan melihat empat kepastian:
1. Kehancuran Orang Fasik. Pada ayat 18-20, persepsi Asaf kembali diluruskan ketika pada akhirnya ia mampu melihat bahwa Tuhan sudah menempatkan orang fasik di atas tanah yang licin. Pada ayat 2, Asaf merasa sepertinya dirinya akan tergelincir, tetapi sekarang ia mengakui bahwa orang yang tidak beriman akan dihancurkan. Tanah yang licin dapat disamakan dengan sebidang marmer yang sudah dipoles sehingga sangat licin. Dari perspektif surgawi, orang terhilang akan kehilangan pijakannya dan akan meluncur dengan cepat sampai ke dasar. Istilah “hancur” digunakan untuk menggambarkan suatu gurun atau wilayah yang dilanda badai. Ketika penghakiman Tuhan datang, orang yang tidak beriman akan dilenyapkan seperti terkena badai.
Ayat 19 adalah nasib dari mereka yang tidak mengenal Kristus: “Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!” Hal ini digemakan lagi dalam 1 Tes 5:3 “Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman – maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin – mereka pasti tidak akan luput.”
Saudara, dengarlah baik-baik. Daripada iri pada harta milik orang-orang terhilang, seharusnya kita memiliki ketakutan kudus akan nasib akhir mereka. Ayat 20 memberi peringatan kepada kita bahwa mereka hidup dalam mimpi atau dalam fantasi, yang pada akhirnya akan berganti menjadi mimpi buruk. Penghakiman adalah nyata dan kita jangan mencoba menutupi kenyataan yang menakutkan mengenai penghukuman kekal.
2. Pertobatan Orang Benar Dalam ayat 21-22, Asaf mengakui matanya yang rabun: “(21) Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya. (22) aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu.” Ayat tersebut menjelaskan sikap Asaf yang mengembangkan kepahitannya terhadap Tuhan ketika ia melihat kehidupan melalui kacamata manusia. “Buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya”, berarti bahwa rohnya mengalami kepahitan. Ketika Asaf menginginkan harta milik orang fasik, ia dimakan dari dalam.
Ketika dikendalikan oleh kepahitan, Asaf bertingkah seperti hewan. Ia menggunakan istilah untuk hewan ternak yang hidup dengan kepala kebawah, hanya melihat rumput dan tidak pernah melihat langit. Seperti hewan di padang rumput, demikianlah Asaf memandang dunia hanya dari perspektif manusia. Ketika ia melakukannya, hatinya merasa pahit, atau “marah”, dan rohnya juga mengalami kepahitan. Satu hal yang membedakan kita dari hewan adalah bahwa hewan tidak dapat merenungkan masa depannya; mereka hidup hanya untuk saat ini. Ketika Asaf melihat hanya kepada tempat ini dan kepada saat kini, ia adalah seperti kerbau yang nakal yang tidak mempunyai konsep mengenai kenyataan kekal.
3. Upah Orang benar Saya menyukai kata pertama dari ayat 23: “Tetapi”. Setelah mengakui bahwa ia merasa pahit, tidak memiliki perasaan, dan lalai, ia segera menyadari bahwa Tuhan tidak mencampakkan dia: “Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.” Ayat ini melukiskan dua buah upah: hadirat Tuhan dan perlindungan Tuhan. Tuhan selalu beserta kita, terlepas dari apapun yang kita perbuat, atau apapun yang kita pikirkan. Dan, Ia memegangi kita. Kita adalah milik kepunyaan-Nya. Yes 41:10: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”
Ayat 24 menjelaskan dua upah lagi: pimpinan Tuhan dan kemuliaan Tuhan :“Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.” Tuhan berjanji untuk membimbing dan memimpin kita dalam menjalani hidup ini. Dan, ketika waktu kita di dunia sudah selesai, Dia akan membawa kita kepada kemuliaan. Kita dapat beristirahat di dalam genggaman Tuhan. Kita dapat bersandar pada pimpinan-Nya dan kita dapat membayangkan kemuliaan yang akan datang.
Pada ayat 25, Asaf pada akhirnya tiba pada titik dimana ia selalu menginginkan Tuhan : ”Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Jika Sdr tidak dapat mengatakan ayat itu dengan jujur pagi ini, maka perspektif Sdr adalah lebih bersifat manusiawi daripada surgawi. Apakah kita pagi ini sudah dapat berkata: “Tuhan, hanya Engkaulah yang aku ingini karena hanya Engkaulah yang aku butuhkan”. Jika Sdr belum dapat mengatakannya, maka Sdr masih akan mempunyai pandangan bahwa hidup ini tampaknya tidak adil. Apakah hanya Tuhan yang Sdr ingini? Apapun yang terjadi pada diri Sdr, atau apapun yang Sdr lihat pada orang lain, apakah Sdr puas di dalam Tuhan? Asaf tahu bahwa tidak ada apapun yang lebih berharga daripada apa yang sudah kita miliki. Apakah Sdr juga demikian?
Pada ayat 26, Asaf dapat berkata bahwa apapun yang terjadi dengannya, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.”Sebagai seorang dari suku Lewi, Asaf tahu mengenai “bagiannya” karena hidupnya tergantung dari persembahan dan perpuluhan dari umat Tuhan.“Bagian” ini dapat diterjemahkan sebagai “haknya” atau “warisan”nya. Kebutuhannya saat ini sudah dipenuhi melalui persembahan dari umat Allah, tetapi ia juga tahu bahwa warisan kekalnya adalah gunung batu yang solid karena Tuhan Sendirilah yang menjadi bagiannya. Pada akhirnya, apapun yang terjadi atas dirinya, Yang Maha Kuasa adalah bagiannya.Apakah Sdr dapat berkata seperti pernyataan Habakuk dalam ayat 3: 17-18 ?“(17) Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, (18) namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.”
4. Tanggung Jawab Orang Beriman Asaf mengakhiri Mazmur ini dengan mengatakan bahwa ia akan memenuhi dua buah tanggung jawab utama dari setiap orang beriman. Pertama, ia akan diam di dekat Allah. Lihatlah bagian pertama dari ayat 28: “Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH.” Karena kebahagiaan hanya ditemukan dalam hubungan yang dekat dengan Tuhan, maka masuk akal untuk berada sedekat mungkin di dekat Tuhan. Dekat dengan Allah berarti manis dan menyenangkan. Asaf sudah mendapat pelajaran langsung bahwa semakin dekat dengan Tuhan, maka semakin kurang ia dipengaruhi oleh daya tarik dunia di sekitarnya. Yak 4:8: “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.”Apakah Sdr akan mendekat kepada Tuhan saat ini?
Tanggung jawab kita yang kedua adalah memberitahukan kepada orang lain tentang Tuhan. Kita melihat hal ini dalam bagian terakhir dari ayat 28: “supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.” Sebelum Asaf melakukan penyembahan ia menyimpulkan bahwa tidak ada gunanya mengikut Tuhan. Ia dipenuhi dengan rasa cemburu dan memutuskan untuk tidak memberitahukan kepada orang beriman lainnya mengenai keraguannya. Selama ia tidak puas dengan Tuhan ia tidak dapat berkata apa-apa. Cemburu atau iri adalah musuh dari penginjilan.
Tetapi pada bagian kedua dari Mazmur ini, Asaf sudah sampai pada kesimpulan yang berbeda. Setelah ia melihat kehancuran orang fasik ia tidak lagi iri dengan harta kekayaan orang fasik dan sekarang Asaf dapat berbicara.
Saudara, dengarkanlah baik-baik. Banyak di antara kita yang tidak menceritakan tentang Yesus kepada orang lain bukan karena mereka tidak tahu bagaimana caranya, tetapi karena mereka tidak sepenuhnya percaya bahwa apa yang kita punya adalah lebih baik daripada apa yang dimiliki orang lain. Keduniawian merusak kesaksian kita karena secara diam-diam kita lebih ingin menjadi seperti orang yang belum beriman. Kita tidak ingin mereka menjadi seperti kita.
Salah satu faktor pendorong yang paling baik untuk menginjil adalah datang ke hadirat Tuhan dan ijinkan Dia untuk merubah paradigma Sdr.Pikirkan mengenai teman-teman sekolah Sdr. Pikirkan keluarga atau kerabat Sdr, rekan kerja, tetangga, dan teman-teman Sdr yang belum mengenal Yesus. Apakah Sdr tertarik dengan gaya hidup mereka? Apakah Sdr ingin agar Sdr dapat melakukan hal yang sama seperti yang mereka perbuat? Apakah Sdr ingin memiliki permainan mereka? Tanyalah pada diri Sdr sendiri: Dimanakah mereka akan berada ketika akhir dari penghakiman Tuhan jatuh ke atas mereka?
Saudara, Kita mungkin ingin bergabung dengan mereka, namun mereka sebenarnya adalah orang-orang yang perlu diselamatkan. Ketika perspektif kita bergeser dari pengertian manusia kearah realitas kekekalan, kita tidak akan sanggup untuk diam. Kita harus bicara. Kita ingin memberitahukan kepada mereka tentang perbuatan-perbuatan Tuhan.Kita tidak dapat duduk-duduk saja di atas kabar baik sedangkan orang-orang lain terpeleset dan tergelincir ke dalam neraka yang menakutkan.
(Kotbah tanggal 17 Juli 2011 di Rajawali Family Ministry oleh Rudy Suwardi)
|
GSJA CWS RAJAWALI
Graha Rajawali
Ruko Mal Depok Blok B 42-43
Depok - Jawa Barat
Indonesia
Hubungi Kami :
Telp. +62 21 776 0204; Fax. +62 21 776 0205
E-mail: info@rajawalifamily.com