









|
Didiklah dengan Penuh Kasih Sayang ! Ada dua kisah keluarga yang sangat menarik untuk kita perbandingkan. Kisah yang pertama tentang sepasang suami istri yang baru saja membeli sebuah mobil. Pagi-pagi sekali, sang suami sudah bangun untuk mencuci mobilnya sampai mengkilap. Di luar dugaan, tiba-tiba turun hujan deras. Mereka memutuskan untuk naik kereta api saja. Di sore hari, sang anak perempuan bermain-main di halaman. Ketika menemukan sepotong ranting yang patah, secara refleks, dia mulai menggambar di permukaan mobil yang mengkilap. Dengan bangga, dia segera memperlihatkan hasil karyanya kepada kedua orang tuanya yang baru pulang kerja. Akan tetapi, kedua orang tuanya menjerit penuh keterkejutan. Sang ayah merebut ranting yang dipegangnya untuk memukuli kedua tangan kecilnya sejadi-jadinya. Sementara itu, sang ibu hanya melihat dari jauh seakan membenarkan perbuatan suaminya. Ketika sang ayah berhenti memukul, anak itu segera berlari ke pelukan pembantu. Sang ayah, dengan terengah-engah berteriak, “Kamu terlalu nakal hari ini sampai mobil baru papa rusak. Malam ini kamu tidur dengan mbakmu saja!” Anak gadis itu dengan tangis tertahan, dipangku dan dibawa ke kamar pembantu. Keesokan harinya, kedua orang tuanya pergi pagi-pagi sekali karena sepakat untuk langsung memasukkan mobilnya ke bengkel. Pulang sudah sangat larut malam karena ada rapat di kantor. Sebelum tidur, sang ibu menengok anaknya yang dia jumpai sedang meringkuk di sudut kamar pembantu. Baru sang pembantu berkata, “Nona itu . . .” Sang majikan langsung menukas, “Nggak apa-apa, biar kapok!” Sang anak pun kembali dibiarkan tidur di situ. Keesokan malamnya, sepulang kerja, barulah mereka menjemput anak mereka. Akan tetapi, ternyata badannya demam tinggi – itulah yang ingin dikatakan sang pembantu kemarin dan kedua tangannya bengkak. Mereka segera ke rumah sakit untuk mendapat diagnosa, “Kedua tangan puteri mereka infeksi hebat dan harus diamputasi!”: Dalam perjalanan ke ruang operasi dan sebelum dibius, sang anak berulang kali berkata, “Papa, mama, saya minta maaf, saya janji tidak akan pernah melakukannya lagi!” Setelah siuman dari operasi, anak itu bertanya, “Papa, mama, bukankah saya sudah minta maaf? Mengapa kedua tangan saya tetap diambil juga?” Kisah kedua tentang sepasang suami istri yang baru saja membeli satu perlengkapan makan keramik Cina kuno. Sepulang kerja, anak laki-laki mereka yang berusia 4 tahun, menyambut di depan pintu dengan berkata, “Aku sudah selesai mencucinya!” Lalu, dengan bangga dia perlihatkan di ruang tamu, “perangkat keramik kuno itu berceceran dengan banyak pecahan di tengah genangan air yang dituangnya dari galon.” Sang ibu hampir saja melayangkan tangannya dan sang ayah hampir saja menggaungkan bentakannya. Akan tetapi, syukurlah, mereka berhenti sejenak, lalu sang ibu bertanya, “Mengapa tidak bilang dulu?” “Khan supaya surprise,” jawab sang anak polos. “Kok nggak dicuci di dapur?” “Tanganku nggak sampai . . mam,” Jawabnya sambil bersandar manja. “Oh begitu! Terima kasih untuk surprisenya anakku.” Jawab sang ibu sambil memeluk anaknya dengan bahu ditepuk-tepuk oleh sang suami. Setelah itu, ketiganya bersama-sama merapikan keramik tersebut dan membuang beberapa yang pecah. Dengan jelas sang ayah mengajari sebelum tidur, “Lain kali, kalau mau mencuci sesuatu, beri tahu papa mama. Kamu akan diambilkan bangku kecil, sehingga kamu dapat berdiri dan mencuci lebih bersih!” Anak itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan tertidur sambil tersenyum. Apa yang membedakan keluarga bahagia ini dari keluarga pertama?
Sesungguhnya, itulah juga kelebihan tokoh wanita di Lukas 8:40-56. Dia fokus kepada satu tujuan yang jelas: untuk memperoleh kesembuhan.
Markus bahkan secara lebih gamblang menyaksikan apa yang terjadi selama 11 tahun penantiannya: “Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya semakin memburuk” (Mrk 5:26) Sungguh mengagumkan, wanita ini tidak menyerah, tetapi tetap maju. Akhirnya, pada tahun ke-12, dia berjumpa dengan Yesus dan kuasa-Nya menyembuhkan secara sempurna, sehingga pendarahannya pun berhenti total. Mungkin ada di antara kita, pribadi atau keluarga, yang ketika menengok ke tahun-tahun sebelumnya mendapati
Tekanlah tombol “pause”! Berhentilah sejenak dan belajarlah dari teladan tokoh wanita pada hari ini. Jangan berputus asa, tetapi songsonglah tahun yang baru dengan doa yang tulus, “Lord, pour out new mercies on me” “Tuhan, curahkanlah rahmat yang baru bagiku!” Dengan hati yang penuh pengharapan, fokuskan hidupmu di awal tahun ini kepada tujuan yang jelas. Tekanlah tombol “pause”! Berhentilah sejenak dan renungkanlah daftar pertanyaan yang dituliskan oleh Stephen Covey, di dalam bukunya, “7 Kebiasaan Keluarga yang Sangat Efektif”:
Sangat besar manfaatnya, jika kita menuliskan komitmen-komitmen baru tersebut. Beberapa penulis menyebutnya sebagai “Daftar Resolusi”, tetapi Covey menyebutnya sebagai “Pernyatan Misi”.
Sekarang, coba renungkan, “Mengapa, Tuhan Yesus bersikukuh bertanya, ‘Siapa yang telah menjamah aku?” (Lih ay 45-46). Tentunya bukan karena Yesus “tidak tahu” atau “tidak suka”. Lalu mengapa? Simak apa yang terjadi selanjutnya (ay 47): Ketika perempuan itu melihat bahwa perbuatannya itu ketahuan:
Yesus sangat puas dengan tanggapan wanita tersebut, sehingga Ia berkata, “Hai anakku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat! (ay 48). Apa yang Yesus ajarkan di sini sangat penting! Rahmat Allah tidak pernah dicurahkan dalam kevakuman, Melainkan melalui hubungan intim dua dimensi, yaitu dengan Yesus Tuhan dan dengan sesama orang percaya. SESUNGGUHNYA, KITA MEMANG TIDAK DICIPTAKAN UNTUK MENYEPI DAN MENYENDIRI, TETAPI UNTUK MENIKMATI HUBUNGAN INTIM YANG KUDUS.
|
GSJA CWS RAJAWALI
Graha Rajawali
Ruko Mal Depok Blok B 42-43
Depok - Jawa Barat
Indonesia
Hubungi Kami :
Telp. +62 21 776 0204; Fax. +62 21 776 0205
E-mail: info@rajawalifamily.com